TVRINews, Pontianak
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mendorong penguatan ekosistem kewirausahaan di Kalimantan Barat untuk memperluas akses pasar, meningkatkan kapasitas pelaku usaha, dan menggerakkan perekonomian daerah. Salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM adalah keterlibatan dalam rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal tersebut disampaikan Maman saat menghadiri Bursa Wirausaha Unggulan 2026 yang dirangkai dengan Yudisium Periode I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura di Auditorium Untan, Pontianak, Senin (26/10/2026).
Maman menilai pengembangan UMKM membutuhkan ekosistem usaha yang mampu menghubungkan pelaku usaha dengan peluang pasar, akses pembiayaan, pendampingan, serta berbagai layanan pengembangan bisnis. Dengan dukungan tersebut, UMKM diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga meningkatkan skala usahanya.
Menurutnya, program pemerintah seperti MBG berpotensi membuka peluang ekonomi baru melalui kebutuhan bahan pangan dan barang maupun jasa pendukung. Peluang ini dapat dimanfaatkan UMKM daerah selama mampu memenuhi standar kualitas, kontinuitas pasokan, dan ketentuan yang berlaku.
“Penguatan UMKM harus diarahkan agar pelaku usaha mampu menangkap peluang ekonomi yang tersedia. Mereka perlu didukung supaya produknya semakin berkualitas, pasarnya meluas, dan usahanya berkembang secara berkelanjutan,” ujar Maman.
Dorong UMKM Kalbar Naik Kelas
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan pengembangan kewirausahaan menjadi salah satu langkah penting untuk memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyebut perekonomian Kalimantan Barat tumbuh 5,61 persen pada triwulan II 2026. Meski demikian, tantangan ketenagakerjaan dan pengembangan usaha mikro masih perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan data yang disampaikan Norsan, tingkat kemiskinan Kalimantan Barat tercatat 5,78 persen pada Maret 2026, sementara sekitar 132 ribu warga masih menganggur. Dari 338 ribu UMKM yang terdata, lebih dari 99 persen merupakan usaha mikro.
“Potensi UMKM di Kalimantan Barat sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana usaha mikro yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat dapat berkembang, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas jangkauan pemasaran,” kata Norsan.
Norsan menambahkan, pengembangan potensi ekonomi lokal perlu dilakukan dengan meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah. Produk seperti kopi liberika, kakao, tengkawang, madu, karet, dan hasil perikanan dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui inovasi, pengolahan, peningkatan kualitas, dan perluasan jaringan pemasaran.
Selain itu, pelaku UMKM didorong memanfaatkan teknologi digital dan ekonomi kreatif untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, khususnya dengan melibatkan generasi muda dalam pengembangan usaha.
Penguatan legalitas usaha, pemenuhan sertifikasi, serta konsistensi menjaga mutu produk juga menjadi faktor penting agar UMKM mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan pasar yang semakin kompetitif.
Perkuat Layanan Terpadu SAPA UMKM
Dalam kegiatan tersebut, Kementerian UMKM bersama Lembaga Penyiaran Publik TVRI serta pemerintah provinsi dan kabupaten/kota se-Kalimantan Barat menandatangani komitmen bersama untuk mendukung implementasi program SAPA UMKM.
Program ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem layanan terpadu bagi pelaku UMKM, sehingga akses terhadap informasi, pendampingan, dan layanan pengembangan usaha dapat semakin mudah dijangkau.
Kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga penyiaran diharapkan mampu memperkuat kapasitas kewirausahaan sekaligus memperluas promosi produk lokal.
Melalui penguatan ekosistem usaha dan pemanfaatan peluang pasar, UMKM Kalimantan Barat diharapkan mampu meningkatkan daya saing, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.










