TVRINews, Entikong
Kondisi infrastruktur yang masih terbatas membuat warga Dusun Sungkung, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, harus menandu warga yang sakit menuju wilayah Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Perjalanan tersebut dilakukan secara gotong royong oleh warga karena akses jalan yang menghubungkan permukiman mereka dengan fasilitas kesehatan masih berupa jalan setapak yang sulit dilalui, terutama saat musim hujan.
Seorang warga Sungkung, Stepanus, mengatakan masyarakat kerap menghadapi kesulitan ketika harus membawa pasien untuk mendapatkan penanganan medis.
“Jalan sangat buruk, hanya berupa jalan setapak dan berlumpur saat musim hujan. Warga harus melewati jalur itu untuk membawa orang yang sakit agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Biasanya pasien dibawa dengan cara ditandu secara gotong royong oleh warga satu kampung,” ujar Stepanus, Selasa, 16 Juni 2026.
Menurutnya, secara geografis wilayah Sungkung yang berada di Kecamatan Siding lebih dekat ke Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, dibandingkan ke pusat pelayanan kesehatan di wilayah kecamatannya sendiri. Karena itu, masyarakat selama ini lebih banyak mengandalkan layanan kesehatan yang tersedia di Entikong.
“Dari Sungkung menuju Desa Suruh Tembawang bisa ditempuh sekitar dua jam berjalan kaki. Sementara jika menuju Siding, waktu tempuhnya lebih dari dua jam. Karena itu, selama ini kami lebih mengandalkan tenaga kesehatan yang ada di Entikong,” katanya.
Stepanus berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi infrastruktur di wilayah perbatasan tersebut, khususnya pembangunan akses jalan yang memadai agar masyarakat lebih mudah menjangkau fasilitas kesehatan.
“Kami berharap pemerintah pusat dapat membangun jalan yang lebih baik sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkan pelayanan kesehatan. Dengan begitu, warga tidak perlu lagi menandu pasien untuk memperoleh layanan kesehatan yang layak,” ujarnya.
Ia menambahkan, peristiwa warga ditandu menuju Entikong bukanlah kejadian pertama. Kondisi tersebut telah berulang kali terjadi karena hingga kini jalur menuju Entikong masih menjadi akses tercepat bagi masyarakat Sungkung untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Ini bukan pertama kali terjadi. Sudah berkali-kali warga yang sakit harus ditandu ke Entikong karena itu merupakan akses tercepat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,” tutur Stepanus.
Kondisi tersebut kembali menggambarkan tantangan yang masih dihadapi masyarakat di wilayah pedalaman dan perbatasan dalam memperoleh layanan kesehatan yang cepat dan memadai akibat keterbatasan infrastruktur dasar.










