TVRINews, Kuching
Kekayaan budaya Indonesia kali ini tidak dipertontonkan di atas panggung biasa. Ragam seni Nusantara justru dibawa berlayar menyusuri perairan Sarawak, Malaysia, melalui gelaran kebudayaan yang berlangsung di atas Royal Kuching Cruise.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching menggelar “Harmoni Kemerdekaan, Sebuah Pagelaran Kebudayaan” pada 6 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus ruang untuk mempererat hubungan Indonesia dengan Sarawak melalui seni dan budaya.
Di atas kapal pesiar tersebut, sejumlah kesenian dan karya budaya Indonesia diperkenalkan kepada tamu undangan yang berasal dari Sarawak, diaspora Indonesia, hingga friends of Indonesia. Pertunjukan itu sekaligus mempertemukan masyarakat dari dua wilayah yang memiliki kedekatan sejarah dan budaya di Pulau Borneo.
Acara dibuka oleh Gusti Nirmala Zulkifli, istri Konsul Jenderal RI Kuching. Sejumlah tokoh Sarawak turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Datin Patinggi Puan Sri Datuk Wira Lorna Enan Muloon Chan, Datin Sri Hajah Zuraini Abdul Jabbar, Datin Dayang Mariani Abang Zain, serta Chief Executive Officer (CEO) Sarawak Tourism Board Dr. Sharzede Datu Hj. Salleh Askor.
Gusti Nirmala mengatakan seni dan budaya dapat menjadi sarana untuk membangun kedekatan antarmasyarakat sekaligus memperkenalkan Indonesia di tingkat internasional.
“Melalui pagelaran Harmoni Kemerdekaan ini, KJRI Kuching ingin terus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus membangun citra positif Indonesia di mata masyarakat internasional, khususnya di Sarawak,” kata Gusti Nirmala, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Pertunjukan diawali dengan fashion show yang menampilkan busana tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Beragam kain, motif, warna, dan potongan busana yang diperagakan membawa identitas dari daerah asalnya masing-masing.

(KJRI Kuching gelar Pesona Seni dan Budaya Indonesia tak hanya tampil di panggung daratan. Di atas Royal Kuching Cruise. (Foto: istimewa))
Tidak berhenti pada aspek visual, busana yang ditampilkan juga memperlihatkan bagaimana wastra Nusantara menyimpan cerita mengenai sejarah, nilai, dan filosofi masyarakat yang melahirkannya.
Setelah peragaan busana, suasana di atas kapal semakin semarak dengan penampilan Saung Akar Budaya. Bunyi angklung kemudian memenuhi ruang pertunjukan dan menghadirkan nuansa khas Nusantara di tengah perjalanan menyusuri perairan Sarawak.
Sejumlah lagu Nusantara dimainkan dalam pertunjukan tersebut. Angklung yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda Indonesia menjadi salah satu medium untuk memperkenalkan kekayaan musik tradisional Indonesia kepada para tamu.
Pertunjukan angklung juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya kebersamaan. Alat musik tersebut dimainkan secara berkelompok, sehingga setiap pemain harus menjaga ritme dan memainkan bagiannya agar menghasilkan satu kesatuan bunyi.
KJRI Kuching berharap kegiatan kebudayaan semacam ini dapat berkembang menjadi ruang kolaborasi yang lebih luas antara Indonesia dan Sarawak, khususnya dalam bidang seni, budaya, dan pariwisata.
Pertukaran kegiatan seni dan budaya juga dinilai dapat membuka peluang bagi komunitas kreatif dari kedua wilayah untuk saling mengenal dan membangun jejaring. Dengan begitu, hubungan Indonesia dan Sarawak tidak hanya berlangsung melalui kerja sama antarlembaga, tetapi juga tumbuh dari interaksi masyarakat.
Di atas Royal Kuching Cruise, budaya Indonesia akhirnya menjadi lebih dari sekadar tontonan. Kain tradisional, musik, dan pertunjukan seni yang dibawa ke tengah perairan Sarawak menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan Indonesia sekaligus merawat kedekatan dengan masyarakat di negeri jiran.









